Usaha Jamur Berkah Pak Naim, Mengembangkan Budidaya Jamur di Desa Paseban

Paseban, Bayat – Melihat peluang jamur di pasaran sekaligus potensi Desa Paseban sebagai desa wisata, Bapak Naim mulai mengembangkan Usaha Jamur Berkah dengan memanfaatkan bekas kandang ayam sebagai tempat budidaya. Saat ini, jamur yang dibudidayakan terdiri dari jamur tiram dan jamur kuping.
Dalam proses budidayanya, Pak Naim menggunakan baglog sebagai media tanam. Baglog yang digunakan untuk jamur tiram dan jamur kuping memiliki media yang sama, tetapi bibitnya berbeda. Bibit diperoleh dari mitra dan komunitas yang berada di wilayah Klaten, sedangkan kebutuhan serbuk kayu untuk baglog diperoleh melalui mitra. Setelah bibit dimasukkan, pertumbuhan jamur membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Baglog yang semakin putih menandakan bahwa pertumbuhan bibit di dalamnya semakin penuh.
Satu baglog memiliki empat lubang pertumbuhan dan dapat bertahan hingga sekitar lima bulan. Dalam kondisi yang baik, satu baglog dapat dipanen hingga sekitar delapan kali. Ketika pertumbuhan jamur pada satu baglog sudah penuh, akan dilakukan panen yang disebut panen agung, dengan hasil sekitar 500-800 gram. Setelah beberapa kali panen, bobot baglog akan semakin berkurang yang artinya hasil panen juga menurun, sekitar 100-200 gram.
Jamur tiram memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dan dalam kondisi yang mendukung dapat dipanen setiap hari. Umumnya, jamur tiram dapat dipasarkan langsung ke pasar, sedangkan jamur kuping telah memiliki mitra pemasaran. Jamur kuping sendiri dapat dijual dalam kondisi kering dan basah. Untuk jamur kuping yang kering, proses pengeringannya membutuhkan waktu sekitar dua hari, sehingga penjualannya dapat dilakukan lebih fleksibel karena tidak harus langsung terjual. Saat ini, pemasaran masih dilakukan secara lokal di wilayah Bayat karena kebutuhan jamur di daerah ini masih cukup banyak.

Hasil panen juga pernah dikembangkan menjadi produk olahan berupa jamur krispi atau keripik jamur yang proses pengolahannya dilakukan di rumah. Produk tersebut dijual sekitar Rp. 15.000. Selain itu, budidaya jamur juga dapat diperkenalkan melalui paket wisata edukasi. Paket baglog ditawarkan dengan harga sekitar Rp. 5.000 dan dapat disertai kegiatan edukasi mengenai budidaya jamur.
Dalam menjalankan usaha, kondisi musim menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi proses produksi. Pada kondisi yang mendukung, produksi dapat mencapai ribuan baglog, sedangkan saat cuaca kurang bersahabat, produksinya saat ini hanya sekitar 500 baglog. Kendala lainnya adalah munculnya jamur alami pada baglog yang dapat mengambil nutrisi dan mengganggu pertumbuhan jamur produksi hingga membuatnya layu. Jamur alami tersebut biasanya dibiarkan tumbuh beberapa kali karena jika langsung dipotong atau dibasmi dapat kembali tumbuh. Hingga kini, solusi untuk masalah tersebut masih belum ditemukan.
Perawatan jamur membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Pak Naim juga memanfaatkan air cucian beras untuk menyiram baglog sebagai tambahan nutrisi. Menurut beliau, kondisi lingkungan juga perlu diperhatikan, termasuk penggunaan bibit pada tahap awal yang sebaiknya berasal dari daerah dengan kondisi lingkungan yang sesuai agar pertumbuhannya lebih baik.
Bagi Pak Naim, pengembangan usaha jamur membutuhkan ketekunan serta kemampuan menyesuaikan diri dengan musim dan kondisi pertumbuhan. Meskipun masih menghadapi berbagai kendala, Usaha Jamur Berkah terus dikembangkan sebagai usaha budidaya sekaligus sebagai salah satu potensi edukasi wisata di Desa Paseban.