Menjaga Warisan Nenek Moyang: Kisah Perjuangan Usaha Batik Rina, Kini Menghidupkan Ekosistem Baru Bagi Pengrajin Batik Lokal Paseban

Paseban, Klaten – Industri tekstil modern mulai menggeliat, secara massal para pengusaha berlomba untuk memodifikasi warisan luhur dengan gaya khas kekinian. Alih-alih menambah daya tarik, beberapa dari hasil tekstil modern justru menghilangkan identitas lama yang di bawa. Namun terdapat salah satu usaha yang masih merawat gaya tradisional dalam kriya batik ialah Batik Rina, usaha ini dimulai sejak lama sekitar tahun 1970-an – Pak Bambang menjadi generasi ketiga pemegang estafet yang melanjutkan usaha keluarganya, Batik Rina yang mulanya berasal dari ketekunan serta rasa cinta terhadap budaya mengantarkan semangat untuk mempertahankan usaha yang ia tekuni.

Perjalanan Pak Bambang sebagai generasi ketiga pun tak semulus yang dikira, pada awal masa merintis menjadi masa sulit yang dialami, masalah yang dihadapi tak lain adalah pemasaran  yang mana sangat sulit mendapatkan konsumen tetap dalam usaha Batik Rina. Kesabaran dan ketekunan berbuah manis, Batik Rina dapat bertahan serta berinovasi menambah variasi produk yang menjadi jalan bagi pengembangan usaha Batik Rina dan mampu dikenal luas sehingga usaha nya melebar hingga ke Kota Jogja dan Kota Solo. Ujian lainnya di dapat pada masa Covid-19 – Ujian tersebut tak lain adalah sulitnya usaha Batik Rina dalam mempertahankan minat pembeli dalam memesan kriya yang mereka jual, sikap pantang menyerah yang kuat melihat hambatan tersebut menjadi tantangan untuk terus berkarya dan memasarkan batik.

Tantangan tersebut ditambah oleh kesaksian Pak Bambang jika ada pengurangan pembatik. Yang dahulu sekitar 30 pembatik dan sekarang hanya 9 pembatik yang bekerja sama bersama Batik Rina, Namun Pak Bambang berusaha keras untuk menjaga roda produksi dengan cara membuka peluang paket wisata edukasi serta praktik pembuatan tie dye rumah untuk menjaga Batik Rina agar tetap eksis hingga saat ini. 

Tidak hanya memproduksi hasil kriya sendiri, Batik Rina juga merangkul komunitas sekitar dengan merangkap peran sebagai pengepul batik tulis. Pembatik mandiri lokal berkesempatan untuk menjual hasil batik mereka kepada Batik Rina, Pola ini akan menumbuhkan keterikatan ekonomi secara positif yang akan memperkuat pilar perekonomian lokal di sekitar Desa Paseban.

Tak berhenti di situ, ketangguhan Pak Bambang menular kepada sang anak yang ikut mendukung usaha Batik Rina sekaligus menjajakan produk lain berupa pernak-pernik dan aksesoris tradisional seperti blankon dan aksesoris kekinian dalam galeri Batik Rina. 

Meski hingga kini ranah pemasaran online belum maksimal, Batik Rina terbukti mampu berdiri tegak melewati berbagai rintangan perkembang industri. Kisah perjuangan Pak Bambang untuk mempertahankan Batik Rina menjadi buah dari kesetiaan terhadap tradisi serta berani mengambil tantangan dan merangkul sekaligus menciptakan ekosistem baru bagi pembatik mandiri untuk menjual kriya yang mereka buat.