
Kisah Pangeran Wuragil di Gunung Malang, Desa Paseban, Bayat, Klaten, menyimpan daya tarik tersendiri karena diceritakan dalam dua versi yang hidup berdampingan di tengah masyarakat. Versi pertama, yang mengalir dari cerita lisan para sesepuh desa, mengisahkan Pangeran Wuragil sebagai seorang panglima perang atau senopati keturunan Kerajaan Majapahit. Beliau diceritakan berkelana hingga ke Gunung Malang dan mendalami ilmu spiritual. Hingga pada akhir hayatnya, beliau belum memeluk agama Islam dan tidak meninggalkan jasad karena mencapai muksa (menghilang bersama jiwa dan raganya) setelah terluka akibat racun dalam pertempuran. Karenanya, masyarakat yang memegang cerita ini meyakini bahwa di Gunung Malang bukanlah makam tempat jasad dikubur, melainkan sebuah petilasan atau lokasi pertapaan suci.
Di sisi lain, terdapat versi kedua yang banyak tercatat dalam sumber-sumber tertulis dan tradisi wisata ziarah di wilayah Klaten. Versi ini menuturkan bahwa Pangeran Wuragil sebenarnya adalah cucu dari Sunan Pandanaran, tokoh besar penyebar agama Islam di Bayat. Dalam narasi ini, sosok Pangeran Wuragil erat kaitannya dengan silsilah keluarga para wali, sehingga Gunung Malang dipahami sebagai makam yang menjadi bagian dari jaringan peziarahan Islam.
Meski kedua versi tersebut membawa pandangan yang berbeda, dimana yang pertama menonjolkan warisan spiritual Majapahit dan yang kedua menekankan garis keturunan Islam, masyarakat Desa Paseban tidak pernah mempermasalahkannya. Kedua kisah ini sama-sama dihormati dan terus diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi tutur dari mulut ke mulut. Keberadaan dua cerita yang saling melengkapi ini justru memperkaya identitas budaya lokal, membuktikan bahwa sejarah Makam Wuragil yang berada di Gunung Malang bukan sekadar tentang silsilah masa lalu, melainkan simbol perjumpaan tradisi, kepercayaan, dan kehangatan ingatan bersama warga setempat.