
Jabalkat yang terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, merupakan salah satu situs bersejarah yang memiliki kaitan erat dengan dua tokoh besar Walisongo, yakni Sunan Kalijaga dan Sunan Bayat (Ki Ageng Pandanaran II). Menurut tradisi lisan masyarakat setempat, tempat ini menjadi lokasi pertemuan antara guru dan murid tersebut pada masa penyebaran Islam di wilayah Bayat. Di Jabalkat inilah Sunan Kalijaga diyakini memberikan tuntunan spiritual serta wejangan dakwah kepada Sunan Bayat sebelum melanjutkan perjalanan menyebarkan ajaran Islam di daerah sekitarnya. Karena nilai sejarah dan spiritual itu, kawasan Jabalkat dihormati sebagai petilasan suci yang menggambarkan perjalanan dakwah dan penyatuan nilai-nilai Islam dengan budaya Jawa.
Secara fisik, petilasan Jabalkat berada di area perbukitan kapur dengan suasana yang alami, tenang, dan jauh dari permukiman padat. Di lokasi ini terdapat beberapa peninggalan sederhana seperti batu besar yang dikenal sebagai Watu Semedi dan sebuah sumur tua yang dipercaya berasal dari masa para wali. Tempat ini sering dikunjungi peziarah untuk berdoa, bermeditasi, atau sekadar menenangkan diri sambil mengenang perjuangan para wali. Masyarakat Desa Paseban juga rutin mengadakan kegiatan nyadran dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Dengan nilai historis, religius, dan kultural yang dimilikinya, Petilasan Jabalkat menjadi salah satu warisan penting yang memperkuat identitas spiritual masyarakat Bayat.